(Source: novinolly)
Aku ingin selama aku menunggu, aku tak memiliki siapa pun di sisiku. Cukuplah. Aku hanya akan menyiapkan hati untuk mencintaimu, selamanya. Sehingga hari ini, aku mengambil jalan yang bisa jadi melukai beberapa orang yang mendekatiku.
Jodohku~
Surat untuk jatuh cinta
Sebenarnya, aku tidak begitu mengerti apa sebabnya jatuh cinta, namun menurut teoriku sendiri (yang lebih sering ngaco ketimbang bener), Jatuh cinta ada bukan karena mengapa. Jatuh cinta ada bukan karena sebab. Jatuh cinta ya jatuh cinta.
Aku jadi merasa dan terdengar labil sekarang, tapi sungguh: Sepanjang umur hidupku hingga hari ini, aku tidak begitu mengerti apa penyebab jatuh cinta.
Bisa jatuh cinta itu terjadi karena sengaja, sengaja terlalu sering bersama. Tapi aku tidak berani menghakiminya. Mungkin juga jatuh cinta terjadi karena ketidaksengajaan, perasaan yang timbul dengan sendirinya. Aku juga belum begitu jelas tentang hal yang satu ini.
Dear jatuh cinta,
Ini surat pertamaku untuk kamu. Aku hanya berharap tahun berikutnya hatiku telah diperkaya oleh pengalaman batin, sehingga aku lebih pandai memilah manakah cinta, manakah kasih, dan manakah sayang sehingga tidak salah bertemu kamu.
Jatuh cinta, sebelumnya aku ucapkan terima kasih karena telah membagi kisah-kisah; baik kisah yang sedih maupun kisah bahagia. Ada kalanya pahit, dan ada kalanya manis. Memang jatuh cinta rasanya seperti itu. Tidak selamanya manis, juga tidak selalu pahit. Jatuh cinta, kamu hanyalah awal. Dan aku bukan paranormal yang dapat menerawang kamu berakhir bagaimana?
Aku percaya, sesuatu yang ditulis untuk kamu ini dari dalam hati dengan penuh rasa cinta, aku akan berhati-hati dalam menulisnya. Mungkin aku terlalu melebih-lebihkan hal ini, tapi itulah aku. Tidak pernah mau jatuh cinta hanya setengah hati.
Jatuh cinta, aku rasa intensitas untuk bertemu kamu sudah menjadi hal yang sulit. Apalagi untuk beberapa bulan terakhir, bayanganmu saja aku tidak melihatnya. Kamu sepertinya sedang berada ditempat yang jauh dan tidak terjangkau. Tidak apa-apa, mungkin kamu sedang ingin sendiri. Kamu selalu sama denganku saat ini.
Jatuh cinta, aku tidak pernah bisa membuat janji bertemu denganmu. Tapi aku selalu yakin kamu akan menemui aku disaat yang tepat. Ya,nanti atau kelak. Aku berjanji tidak akan bosan menunggu kedatanganmu. Aku memang tidak pernah mudah untuk bertemu kamu dengan sengaja.
Tapi aku ingin kamu berjanji untuk satu hal. Nanti bila aku bertemu kamu, kamu jangan cemburu melihatku bersamanya. Karena mungkin kalian datangiku bersamaan. Berjanjilah untuk selalu bersama-sama ketika aku bersamanya. Hanya bersamanya saja tidaklah lengkap tanpa hadirnya kamu.
Jatuh cinta sungguh aku sudah merindukanmu, aku mengerti kau tidak akan membalas suratku ini, tapi secepatnya temui aku :)
Surat Untuk Kamu Kamu
Aku ingin menulis surat. Kepada kamu-kamu yang bercita-cita sederhana ingin menjadi cinta yang baik untukku dengan cara yang baik pula.
Mengucap terima kasih untuk kasih sayang dan kepedulian yang banyak dihadiahkan untukku. Aku memang tak pernah membalasnya, oh bukan bukan, maksudku aku selalu bingung membalasnya dengan cara apa.
Aku percaya banyak hal yang baik dan menyenangkan akan aku alami yang belum terjadi. Segala sesuatu yang baik memang harus dipercaya agar benar-benar terjadi.
Mungkin aku memang punya sahabat-sahabat yang luar biasa, tapi aku masih memerlukan cinta yang lain - bukan hanya sekedar sayang. Kamu tahu maksudku kan?
Sebenarnya aku bukannya sedang bosan dengan kesendirianku, tapi aku terkadang merasa kesepian. Wajar kan? Aku manusia: Butuh dicintai dan mencintai.
Bukan karena waktu yang tak mengizinkan. Tidak ada yang terlambat. Hanya saja waktu terlalu cepat. Sehingga tak pernah tepat.
Aku hanya sudah terlanjur berjanji pada diriku. Untuk tidak melukai hatiku dan juga hatimu. Mungkin ini salah satu cara pilihanku.
Baik-baiklah kamu-kamu menjaga hatimu untukku, karena ia harus tetap utuh dan dalam keadaan baik. Karena aku tak pernah mengizinkan siapapun terluka!
Dan ketika kau berjumpa dengan jodohmu kelak. Tak perlu lagi kau simpankan ia untukku, tolong berjanjilah dalam hatimu. Kau boleh mengabaikannya bahkan membuangnya.
Untuk seluruh yang menyayangiku. Semangat!
Mantan Pacar Pertama
Hai kamu.. apa kabar? Saya pikir kita sudah cukup saling mengenal. 7 tahun. Apa pendapatmu itu terhitung waktu yang singkat? Ini adalah kebenaran. Pertama kali saya tahu kamu, kamu teman sekelasku yang paling rajin datang pagi ke sekolah, sama seperti saya. Mungkin kita masih terlalu cupu untuk datang terlambat.
Kemudian kami menjadi teman baik. Saya tidak tahu apa yang membawa kita bersama. Mungkin karena kau sama seperti saya. Selalu datang pagi-pagi ke sekolah dan tidak pernah datang terlambat. — (murid kelas 7)
Setiap pagi, entah apa saja yang sering kita bicarakan. Tapi jelas saya yakin, kamu masih belum paham apa itu rasa cinta, begitupun saya. Bagaimanapun kamu dulu. Tetap saya anggap lucu. — (murid putih biru)
Entah dulu seberapa special kamu dimata saya! Hingga saya selalu rela untuk bangun pagi dan tidak datang terlambat. Alasan pertama hanya karena tidak ingin melewatkan saat-saat mengobrol pagi itu. — (mantan pacar pertama)
Saya tidak pernah tahu pasti apa sebab dan alasan kita tidak bersama lagi. Tidak pernah ada kata “PUTUS” seingatku. Hanya saja kita tidak pernah lagi bertegur sapa, apalagi berbincang-bincang semenjak kamu menduduki kelas bilingual. Sayangnya saya tidak mengikuti test masuk kelas itu. Mungkin ceritanya akan berbeda kalau saya ada di kelas bilingual. Ah tapi sudahlah. Saya tidak pernah menyesal berteman baik denganmu saat ini.
Setelah ganti baju putih abu-abu, saya semakin tak tahu kabarmu. Apa kabar? Saya tak perlu khawatirkan kamu. Saya yakin kamu masih saja pintar dalam segala hal. Saya dengar sekarang kamu pakai batik dan celana abu abu ya? Saya pakai rompi dan rok abu-abu loh. Semester 2 saya ditawarin pake baju batik persis bahkan sama kaya yang kamu pakai, tapi saya terlanjur sayang sama rompiku ini.
Setelah lulus SMA. Dan melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi. Melalui jejaring sosial facebook mungkin untuk pertama kalinya lagi kamu menyapaku. Walaupun sejak melepas seragam putih biru sampai masuk perguruan tinggi semester 4 saya tak lagi pernah bertemu kamu lagi. Tak sedikit perbincangan kita melalui dunia maya karena Indonesia-Jerman! Jarak yang tidak cukup dekat untuk dijangkau antara Saya-Kamu.
Melalui surat ini, saya ingin mengucapkan terima kasih pernah menjadi pacar pertama bagi saya, untuk semua waktu baik dan buruk serta kenangan singkatnya. Terima kasih untuk tidak pernah membuat hati saya terluka.
Hai Naufal Pamuji ;)
Wartel Restu Ibu
Seorang gadis berjalan tergesa-gesa, sepedanya ia titipkan pada tukang parkir. Mengenakan daster panjangnya sedikit diangkat melewati jalanan pasar yang becek. Gerimis masih saja menawarkan dingin sejak semalam, ia menangkupkan bahunya menuju bangunan di sisi kanan pasar.
Baru pukul tujuh pagi, wartel Restu Ibu masih sepi. Penjaganya yang berbedak tebal dan gincu merah sedang sarapan nasi uduk, segelas teh manis di sebelah kiri tangannya. Lantai wartelnya belum disapu dan tulisan CLOSE masih menghadap sisi luar.
Dengan mimik takut-takut ia membuka pintu dan mencoba tersenyum. Penjaga wartel terkejut, tak menyangka mendapat pelanggan sepagi ini. Ia tinggalkan sarapannya dan menyalakan mesin perangkat telekomunikasi. Gadis itu menunggu di bangku kayu. Tak sabaran ingin segera bicara dengan seseorang, sepertinya pembicaraan yang penting.
Semenit. Tiga menit. Sepuluh menit. Lima belas menit berlalu sudah. Ia mengusap keningnya yang berkeringat. Lama sekali, ujarnya dalam hati.
Penjaga wartel yang menor masih saja menekan tombol sana-sini.
Dua puluh menit kemudian gadis itu diperbolehkan masuk ke kotak transparan. Ia menutup pintu, mengangkat gagang telepon dan tak sabar dengan nada tunggunya. Tangannya mengetuk-ngetuk meja.
“Halo”. Sebuah suara bariton membungahkan harapnya dengan segera.
Tiga menit berlalu, layar hitam persegi panjang bertuliskan angka digital menunjukkan 275 rupiah.
Katakanlah kau mencintaiku sekali lagi.
Tidak, bukan yang itu. Jika sayang maka datanglah ke sini.
Aku tak pernah meminta apa-apa padamu, masa datang ke sini saja enggan.
Aku tak tahu jika harus ke sana sendiri.
Dua puluh menit berlalu. Gadis kini menangis, air hangat dari ujung pipinya mulai jatuh tegak lurus. Mungkin ia sesak dalam rindu yang terus-menerus.
Datang seorang pemuda paruh baya pemilik toko sembako ikut mengantri. Dua menit kemudian datang Ibu pemilik Kost merah jambu. Tak lama setelahnya menyusul seorang Pemuda belasan tahun. Dan bilik telepon cuma satu.
Jadi kau cinta tidak? Suara dari balik bilik kembali terdengar. Wartel ini tidak kedap suara. Atapnya bolong. Suara dari dalam kotak terdengar hingga kursi kayu.
Apalah ini, pagi-pagi membicarakan cinta. Ibu pemilik kost menggumam sebal.
Urusan anak muda, biasa. Bapak paruh baya menimpali.
Bagaimana dengan cinta jika aku tua nanti?
Benarkah hanya aku satu-satunya di hatimu?
Jika ada wanita menarik lainnya bagaimana?
Gadis itu terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan.
Gadis itu cantik. Pasti banyak yang mau jika ia mau. Telantar sekali hatinya sepertinya, terangkai jarak dan kata yang hanya bisa diucap lewat gagang telepon.
Jadi kamu mencintaiku atau tidak sih?. Ia menyeka ujung matanya dengan sapu tangan yang dikeluarkan dari tas hitamnya.
Kamu masih dengan istrimu?
Ketiga pengantri lainnya mendengar jelas semua kalimat si gadis. Pembicaraan pelan-pelan dan sedikit berbisik. Tapi perasaan gadis ini berteriak lebih kencang. Ia mengapit gagang telepon dengan telinga dan bahunya. Tangannya mengeluarkan ingus dari hidungnya.
Katakan kamu masih tidur dengannya tidak?
Sudah satu jam. Ini gila, lama sekali. Ibu pemilik kost memberengut.
Hei nona, ini sudah sejam. Gantian dong!. Bapak paruh baya membuka pintu bilik. Ia tak tega sebetulnya, tapi jika tak menelepon sekarang uang komisi penjualan tanah akan segera lenyap. Tak ada cincin emas untuk istrinya berarti dan handphone baru untuk etiga anaknya.
Lihatlah gadis itu. Matanya sudah memerah. Ia memegang gagang telepon di dadanya, sebentar lagi Pak. Sebentaaaarr saja. Lima belas menit lagi, kumohon.
Ketiga penunggu kembali harus bersabar lagi. Pemuda belasan tahun itu menyulut rokok Sampoerna Mild. Ibu pemilik kost beringsut dari duduknya, pegal bokongnya menunggu. Bapak paruh baya itu menghitung uang untuk biaya menelepon nanti.
Aku tak rela jika begini terus. Bagaimana dengan anak di kandunganku?
Ah jadi beginilah rupanya. Wanita cantik yang menangis ini sedang hamil dan meminta pertanggung jawaban lewat telepon. Terbit kasihan di wajah ketiga pengantri telepon. Pakailah nak, pakai saja teleponnya. Kami akan menunggu di sini hingga kau selesai.
Sang gadis menengok dompetnya, uang dua puluh ribunya akan habis digunakan semua untuk menelepon. Tarif sudah menunjukkan 19.725 rupiah. Tiga menit tersisa lagi. Sapu tangannya sudah basah oleh air mata.
Sudahlah sudah, jika kau tak mau pulang juga biar kurawat sendiri bayi ini. Percuma menikah denganmu jika kau masih tidur dengan istrimu yang itu.
JEGLEEEKKK. nuuttt nuutt nuttt…
Si Gadis keluar dari bilik. Ketiga pengantri berdesakan masuk, mereka saling sikut. Lupa dengan wajahnya yang pias oleh kecewa. Pikirannya kosong, bolong.
Kemudian ia jatuhkan pantatnya di kursi kayu dan bergabung dengan para pengantri lainnya.
Dua puluh ribu rupiah masih tersimpan dalam selipan kutangnya.
Surat Untuk Kamu
Surat dariku untuk Kamu
Halo, Kamu. Apa kabar? Maaf jika aku memulainya dengan pertanyaan basi. Tapi aku memang benar-benar ingin tau bagaimana keadaanmu. Aku masih saja menunggumu. Mungkin kita butuh waktu yang tak terlalu lama, tak terlalu cepat. Tapi aku akan tetap sabar menunggumu
Ku pikir cinta itu memiliki kekuatan sempurna yang tak terdefinisi. Lengkap. Luar biasa. Mengajarkan kita bersyukur setiap saat. Mengagumi bahwa terkadang Tuhan menciptakan seseorang itu bisa saja sempurna, nyaris tanpa cacat, walau relatif. Dan kita seperti lumpuh. Tak bisa menawar jika memang di setiap talamus otakku telah terukir namamu. Aku berusaha menjaganya sekuat tenaga, menjaga hatimu. Sama sekali tak ingin kesempurnaan itu cacat dan tersakiti. Dikarenakan aku mencintaimu, tulus sedalam-dalamnya, melihatmu bahagia adalah ponit terpenting. Dengan ataupun tidak bersamaku.
Aku tak tau kamu siapa. Mungkin saja sebenarnya kita pernah, atau bahkan sering bertemu walau aku tak pernah ingat. Mungkin kamu yang sering memperhatikan aku diam-diam dari jauh. Mungkin saja kamu adalah salah salah satu dari teman dekatku. Atau mungkin kamu adalah mantan kekasihku. Entahlah. Siapapun kamu, aku mengucapkan salam kenal.
Hari ini aku sedang mengingatmu, hendak berterima kasih telah membuatku begitu merasa berharga. Membuatku merasa dicintai meski aku tak pernah tau. Kamu telah dengan setia peduli dengan berbagai kesukaan dan kebiasaanku. Walau aku sendiri pun terkadang tak yakin kamu ada.
Dan jika ternyata kamu benar-benar ada dan membaca suratku ini. Besok temui aku ya. Ajak aku ngobrol, dan berada lah di dekat-dekat aku. Aku jatuh cinta padamu, tujuan berlabuhnya seluruh penantianku. Tapi enapa kau tak juga datang? Cukup membuatku lama menanti. Bahkan huruf awal namamu saja belum kuketahui pasti.
Ini surat untukmu yang masih saja jadi rahasia Tuhan. Untuk calon temanku berbagi kasih kelak :)
Bagaimana? Kapan? Dimana?
Kita yang pernah saling menjangkau dan yang lalu tidak lagi terjangkau
(atau kita yang pernah merasa saling menjangkau dan yang lalu sebenernya selalu menjangkau)
Apa kabar kamu menjelang pagi ini?
Mengapa seolah kamu ingin aku jangkau (kembali)?
dan mengapa seolah aku ingin terjangkau olehmu (lagi)?
Bukankah kisah kita telah usai beberapa waktuyang silam?
Atau sebenarnya kita masih memiliki ratusan waktu lagi untuk kita nikmati di masa depan?
Bagaimana?
Kapan?
Dimana?
Terlalu lancang bila kita harus menerla-nerka. Biar Tuhan mengutus waktu yang menjawab.

